Bakmie piring




Sebagai mahasiswi semester lima yang hari-harinya semakin dipenuhi tugas, presentasi, dan aktivitas kampus, ada satu hal yang selalu bisa jadi pelarian kecil di tengah padatnya rutinitas: makanan. Bukan makanan mewah atau yang viral di TikTok, tapi sesuatu yang hangat, sederhana, dan punya karakter. Dan salah satu hal yang paling menarik perhatian aku belakangan ini adalah bakmie piring yang bisa ditemukan di kawasan Blok M—sebuah kuliner klasik yang terasa berbeda dari kebanyakan mie lain.

Blok M memang selalu punya atmosfer yang tidak pernah tidur. Ada saja kegiatan, suara, dan keramaian di sana. Tetapi di tengah hiruk pikuk itu, bakmie piring menghadirkan sensasi sebaliknya: sederhana, hangat, dan penuh sentuhan nostalgia. Mungkin karena sajian uniknya yang tidak memakai mangkuk, mungkin karena aroma gurihnya yang khas, atau mungkin karena pengalaman makan mie di piring besi terasa seperti kembali ke masa yang lebih lambat.

Yang jelas, semakin sering aku makan bakmie piring, semakin aku merasa ada cerita yang bisa diceritakan di balik tiap suapan.

Apa Itu Bakmie Piring?

Bakmie piring sebenarnya tidak jauh berbeda dari mie ayam atau bakmie klasik lainnya. Yang membuatnya berbeda adalah cara penyajiannya. Alih-alih menggunakan mangkuk, mie disajikan dalam piring besi atau piring keramik cekung yang unik. Penyajian model ini sudah ada sejak lama, terutama berasal dari budaya pedagang Tionghoa dan rumahan jadul.

Piring besi memiliki fungsi yang cukup khas:

  • mempertahankan panas lebih lama,

  • membuat minyak dan bumbu menyebar rata,

  • memberikan aroma yang sedikit berbeda,

  • dan menciptakan sensasi makan yang lebih intim.

Begitu mie disajikan di piring panas, aromanya langsung naik: minyak ayam, bawang putih tumis, kecap asin, dan sedikit wangi gurih dari bumbunya. Hal ini membuat bakmie piring punya identitas rasa yang sangat membedakan dirinya dari mie biasa.

Karakter Rasa yang Bikin Nagih

Yang aku suka dari bakmie piring adalah bagaimana rasanya terasa ringan tapi tetap penuh karakter. Setiap helai mie dilapisi minyak ayam atau minyak babi (tergantung versi halal/non-halal), membuat teksturnya licin tetapi tidak berlebihan. Saat diaduk, bumbunya merata dan membuat mie menyerap rasa secara seimbang.

Rasa bakmie piring biasanya:

  • gurih lembut,

  • sedikit manis dari kecap,

  • savory dari minyak ayam/babi,

  • tidak terlalu kuat,

  • tapi tetap meninggalkan kesan yang dalam.

Kuah pendampingnya bening, rasanya halus dan ringan. Kuah seperti ini membantu membersihkan palate setiap beberapa suapan sehingga kita tidak merasa enek atau mudah kenyang.

Toppingnya sederhana: daging ayam cincang atau suwir, pangsit, daun bawang, dan sedikit bawang goreng. Tapi kombinasi sederhana ini justru membuat rasa bakmie piring terasa balance.

Pengalaman Makan di Blok M: Sederhana Tapi Berarti

Blok M selalu punya daya tarik unik. Di satu sisi modern, di sisi lain tetap mempertahankan sisi tradisionalnya. Saat makan bakmie piring di sana, aku merasa seperti sedang mencicipi potongan kecil dari Jakarta tempo dulu—yang mungkin sudah jarang kita temukan.

Suara kendaraan, orang lalu-lalang, pedagang lain yang memanggil pelanggan, aroma makanan dari berbagai penjuru, semuanya jadi latar belakang pengalaman makan mie yang sangat khas. Rasanya seperti makan di tengah kehidupan nyata kota, bukan versi yang dirapikan seperti di mall.

Dan karena bakmie piring itu disajikan di piring besi, ada sensasi makan pelan sambil menikmati rasa yang tidak cepat dingin. Walaupun sambil ngobrol lama, mienya tetap enak.

Kenapa Bakmie Piring Jadi Favorit Banyak Orang?

Ada beberapa alasan yang menurutku membuat bakmie piring tetap bertahan di hati banyak orang:

1. Rasanya “Clean” dan Mudah Diterima

Tidak terlalu asin, tidak terlalu berminyak, dan tidak terlalu kuat. Cocok untuk semua lidah.

2. Penyajiannya Unik

Piring besi memberi sensasi nostalgic sekaligus berbeda.

3. Mengenyangkan Tanpa Berat di Perut

Mie-nya tipis dan ringan. Setelah makan, tidak merasa “kebanyakan.”

4. Ada Sentuhan Tradisi

Inilah alasan terbesarnya. Bakmie piring bukan sekadar makanan—dia adalah bagian dari cerita kuliner lama.

Bakmie Piring Sebagai “Comfort Food”

Buatku pribadi, bakmie piring adalah salah satu makanan yang bisa membuat hati tenang. Apalagi setelah hari panjang di kampus. Ada rasa yang menenangkan saat melihat piring panas datang ke meja, mie yang mengkilap, dan aroma bawang yang langsung terasa.

Kadang aku merasa makanan seperti bakmie piring ini adalah bentuk kecil dari self-care. Sesuatu yang sederhana, tapi punya efek menenangkan yang nyata—terutama saat dimakan sendiri sambil duduk diam.

Bakmie Piring dan Cerita di Dalamnya

Setiap kali makan bakmie piring, rasanya selalu ada cerita kecil yang mengikuti:

  • pernah makan sambil ketawa bareng teman kampus,

  • pernah makan sendirian sambil mikir masa depan,

  • pernah makan sambil nunggu hujan reda,

  • pernah makan sebagai “hadiah” setelah ngerjain tugas berat.

Makanan sederhana ini entah kenapa terasa punya ruang tersendiri di hati.

Penutup: Bakmie Piring, Hangat dan Penuh Kenangan

Pada akhirnya, bakmie piring Blok M bukan hanya tentang mie yang disajikan di piring besi. Lebih dari itu, dia adalah tentang pengalaman makan yang autentik, tentang rasa yang ringan tetapi penuh kehangatan, dan tentang momen-momen kecil yang kita bagi bersama diri sendiri atau orang lain.

Di tengah kehidupan mahasiswa yang padat dan cepat, bakmie piring jadi pengingat bahwa kenyamanan bisa datang dari hal sederhana—seperti semangkuk mie hangat di piring klasik, di sudut kota yang penuh cerita.

Dan mungkin, itu yang membuat bakmie piring tetap dicari dan dicintai.


ditulis oleh Natasya Madeti

Komentar

  1. ini ada dimana aja kak

    BalasHapus
  2. “Eh, tanggal 27 Maret ada Grand Opening Bakmie Wonton Legendaris Malaysia di The Barn BSD loh 👀

    Denger-denger ada voucher juga, aku liat di sini:
    https://www.instagram.com/p/DWQNou9EQpg/?igsh=MTQyOTR0c3o2ZGh0Ng==
    https://www.instagram.com/reel/DWQN7xgAWAK/?igsh=MW1jdGQzeWw0b2U5OA==

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjelajah Nikmat: Pengalaman Nyicip Mie Fong Sheng di Puri Indah Mall

Golden Lamian: Sejarah, Cita Rasa, dan Tips Menikmati Mie Tarik Khas Tiongkok Modern

Vietnam Noodle: Phó Ba Bà