Bakmi Sir Babi Ol Pok
Beberapa waktu lalu, saya akhirnya menuntaskan rasa penasaran yang sudah lama saya simpan: mencoba Bakmi Sir Babi Sunter, atau yang lebih sering disebut orang Sir Babi Ol Pok!. Nama yang cukup unik, kan? Dari dulu, saya sudah sering mendengar desas-desus tentang kelezatan bakmi mereka, terutama dari teman-teman yang tinggal di Jakarta Utara. Katanya, kalau bicara soal bakmi babi, tempat ini adalah salah satu yang wajib masuk daftar.
Awalnya, saya agak bingung mencari lokasinya. Tempatnya memang tidak terlalu besar dan sedikit tersembunyi. Saya sampai sempat memutar arah dua kali karena takut kelewatan. Tapi justru itulah daya tariknya—sebuah hidden gem yang tidak semua orang tahu. Begitu sampai, saya langsung disambut aroma wangi babi panggang yang keluar dari dapur. Rasanya perut saya langsung protes, “Ayo cepat duduk, lapar nih!”
Kalau kamu membayangkan restoran besar dengan dekorasi modern, mungkin kamu akan sedikit kaget. Tempat makan ini justru sederhana. Meja kayu berjejer rapi, bangku plastik, kipas angin yang berputar di langit-langit, dan suara hiruk pikuk dari pengunjung yang keluar masuk. Tapi suasana seperti inilah yang sering kali bikin pengalaman makan jadi lebih otentik. Rasanya seperti makan di rumah saudara atau tetangga yang jago masak.
Saya datang agak pagi, sekitar jam 09.00, dan ternyata tempat sudah cukup ramai. Ada yang datang bersama keluarga, ada juga yang sendiri sambil baca koran, dan ada pula rombongan anak muda yang sepertinya baru saja selesai olahraga. Tempatnya memang bukan tipe kafe untuk nongkrong berlama-lama, tapi lebih ke tempat singgah cepat: datang, makan, puas, lalu pulang dengan perut bahagia.
Begitu duduk, saya langsung disodori menu. Sebenarnya pilihannya tidak terlalu banyak, tapi itu justru bagus—artinya mereka fokus pada apa yang benar-benar jadi keahlian. Dan tentu saja, tanpa pikir panjang saya memesan Bakmi Komplit.
Satu porsi bakmi komplit di sini sudah termasuk mie karet khas mereka, ditambah berbagai topping babi: babi cincang, char siu (babi merah), dan siobak (babi panggang garing). Benar-benar komplit sesuai namanya.
Tidak sampai 10 menit, mangkuk besar berisi bakmi itu sudah ada di depan saya. Aroma gurihnya luar biasa menggoda. Mienya tampak kenyal dan tidak terlalu berminyak, pas banget dengan selera saya. Potongan char siu berwarna merah muda kecoklatan terhampar di atasnya, diselingi babi cincang yang harum, dan tentu saja siobak dengan kulitnya yang crispy.
Saya selalu percaya bahwa kualitas sebuah bakmi bisa langsung ketahuan dari suapan pertama. Jadi begitu mangkuk datang, saya aduk sebentar untuk memastikan bumbu dan minyaknya tercampur rata, lalu saya angkat mie dengan sumpit, dan… nyesss! rasanya benar-benar bikin terharu.
Mienya kenyal, tidak terlalu lembek, dan punya tekstur yang pas di mulut. Bumbunya sederhana, tapi mantap—ada kombinasi asin, gurih, dan sedikit manis yang menyatu sempurna.
Lalu saya coba char siu-nya. Wah, ini sih luar biasa! Dagingnya empuk dengan lapisan lemak tipis yang membuat setiap gigitan juicy. Rasanya manis gurih, khas char siu yang dimasak dengan baik.
Bagian favorit saya adalah siobaknya. Kulitnya renyah, tapi daging bagian dalam tetap lembut. Saat digigit, ada sensasi “kres” yang bikin nagih. Ditambah sedikit sambal bawang buatan mereka—beuh, rasanya naik level.
Yang menarik, di sini bukan hanya bakmi yang enak. Saya sempat pesan juga bakso goreng babi dan sate babi sebagai pendamping. Bakso gorengnya renyah di luar, kenyal di dalam, dengan rasa daging yang sangat terasa. Kalau tidak cepat-cepat dimakan, bisa habis direbut teman di meja.
Sate babinya juga tidak kalah mengesankan. Dagingnya tebal, dimarinasi dengan bumbu manis asin, lalu dibakar hingga agak gosong di tepi. Rasanya smoky, gurih, dan manis, bikin saya ingat sate babi khas Bali, tapi dengan sentuhan berbeda.
Saya jadi paham kenapa banyak orang bilang, kalau ke sini jangan cuma pesan bakmi—coba juga menu lainnya biar lebih puas.
Dengan kualitas dan porsi sebesar itu, saya kira harganya bakal bikin dompet menjerit. Tapi ternyata tidak. Satu porsi bakmi komplit harganya sekitar Rp32.000. Menurut saya, ini masih sangat masuk akal, apalagi dibandingkan dengan restoran-restoran modern yang sering kali lebih mahal tapi rasanya biasa saja.
Kalau ditambah minum dan beberapa menu sampingan, total saya makan di sana habis sekitar Rp70.000-an. Untuk pengalaman makan yang memorable seperti ini, rasanya worth it banget.
Saat pulang, saya merasa sangat puas. Ada rasa kenyang, tapi juga ada rasa bahagia karena akhirnya saya bisa merasakan sendiri hype yang sering orang ceritakan. Memang benar, Bakmi Sir Babi Sunter ini bukan sekadar tempat makan. Dia seperti warisan rasa yang membuat orang rela jauh-jauh datang hanya untuk semangkuk bakmi.
Beberapa hari setelahnya, saya masih sering kepikiran rasanya. Bahkan menulis cerita ini saja bikin saya menelan ludah. Saya rasa, setiap orang yang suka bakmi wajib mencoba tempat ini setidaknya sekali dalam hidupnya.
Kalau kamu berencana mampir, saya punya beberapa tips kecil:
-
Datang lebih pagi. Biasanya menjelang siang tempat semakin ramai, jadi kalau tidak mau antre panjang, datanglah sekitar jam 08.00–09.00.
-
Pesan bakmi komplit. Ini adalah menu andalan mereka dan paling pas untuk yang pertama kali datang.
-
Jangan lupa sambalnya. Sambal bawang mereka pedasnya nendang dan bikin rasa makin mantap.
-
Coba menu tambahan. Bakso goreng atau sate babi adalah pilihan terbaik untuk melengkapi pengalaman.
-
Bawa teman. Karena porsinya cukup besar, seru banget kalau bisa sharing berbagai menu.
Buat saya, kunjungan ke Bakmi Sir Babi Sunter ini adalah pengalaman kuliner yang benar-benar berkesan. Dari suasana sederhana, pelayanan yang cepat, harga yang ramah, hingga rasa yang luar biasa, semuanya meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Kalau kamu pencinta bakmi atau penggemar kuliner babi, jangan tunda lagi. Datanglah ke Sunter dan rasakan sendiri kenikmatannya. Saya yakin, sekali mencoba, kamu pasti akan rindu untuk kembali.
Ditulis oleh : Nickolas Sammuel

Komentar
Posting Komentar