Makan Miesua Dengan Rasa Yang Autentik

Disaat hujan turun deras atau bahkan ketika kita lagi punya waktu senggang, rasanya memang paling nikmat kalau ditemani semangkuk makanan hangat. Ada sesuatu dari suara hujan yang jatuh di atap, bau tanah yang khas, ditambah hawa dingin yang masuk pelan-pelan lewat jendela, membuat perut seakan otomatis mencari sesuatu yang bisa menghangatkan. Nah, salah satu pilihan yang menurut saya tidak pernah gagal adalah miesua. Makanan ini memang sederhana, tapi punya keistimewaan yang susah ditolak. Teksturnya lembut, halus, dan benar-benar bikin nyaman di mulut. Bahkan, tanpa perlu banyak dikunyah pun, mie ini bisa langsung meluncur masuk ke tenggorokan, memberi rasa hangat yang sampai terasa ke dalam perut.

Miesua memang punya sensasi yang beda dibandingkan dengan mie pada umumnya. Kalau mie biasa cenderung lebih kenyal atau tebal, miesua ini tipis, ringan, tapi tetap bisa bikin kenyang. Mungkin karena itulah banyak orang menganggap mie ini sebagai comfort food, makanan yang cocok dimakan kapan saja, terutama di saat-saat butuh pelukan kecil dari semangkuk hidangan hangat. Bagi saya pribadi, setiap kali menyantap miesua selalu muncul perasaan nostalgia, seolah-olah kembali ke suasana rumah, ke meja makan sederhana yang penuh kehangatan.

Kalau soal mencari miesua enak di Jakarta, sebenarnya tidak terlalu sulit. Kota ini kan penuh dengan berbagai pilihan makanan dari seluruh daerah, bahkan seluruh dunia. Tapi, dari sekian banyak tempat, salah satu yang jadi favorit saya adalah GinGin Bakershop. Pertama kali mendengar namanya, saya juga sempat heran. “Loh, kok namanya Bakershop? Bukannya biasanya bakershop itu identik dengan toko roti atau kue?” Dan memang benar, GinGin ini menjual roti dan kue juga. Tapi yang bikin saya kaget sekaligus kagum adalah ternyata mereka juga punya menu makanan berat yang kualitasnya tidak kalah, bahkan bisa dibilang layak banget untuk jadi bintang utama.

Jadi, jangan buru-buru meremehkan makanan berat yang dijual di GinGin. Kalau biasanya kita hanya mengaitkan bakershop dengan pastry, kue manis, atau roti empuk, di sini justru berbeda. Saya merasa, ada sisi “kejutan” yang sengaja ditawarkan. Saat datang dengan ekspektasi hanya sekadar beli roti, kita justru bisa menemukan makanan berat seperti miesua dengan rasa autentik, premium, dan sangat memanjakan lidah.

Soal harga, menurut saya masih sangat wajar untuk standar Jakarta. Satu porsi mie biasanya dibanderol sekitar Rp50.000 sampai Rp70.000. Memang bukan yang termurah, tapi kalau sudah mencoba rasanya, harga itu benar-benar terasa pantas. Apalagi dengan porsi yang cukup besar dan topping berlimpah, kita pulang bukan cuma dengan perut kenyang, tapi juga hati puas. Kemarin, saya sempat memesan dua menu makanan berat sekaligus, dan keduanya berbahan dasar miesua.


Menu pertama yang saya coba adalah Mee Sua Hing Hua. Saat tulisan ini dibuat, harga satu mangkuknya sekitar Rp59.000. Dari segi penyajian, saya merasa mie ini punya karakter unik. Mungkin karena saya terbiasa dengan mie atau miesua yang berkuah, jadi ketika mencoba Mee Sua Hing Hua, rasanya benar-benar seperti menemukan sesuatu yang baru. Penyajiannya rapi, porsinya besar, dan begitu disajikan, aromanya langsung menggoda.

Satu mangkuk Mee Sua Hing Hua ini berisi mie dalam jumlah banyak, dengan topping yang melimpah. Ada telur, wortel, rumput laut, sayuran segar, bawang goreng, jamur, udang, dan juga ayam. Kalau semuanya diaduk jadi satu, rasanya seperti orkestra di mulut. Setiap suapan punya kejutan tersendiri: ada gurih manis dari udang, sensasi hangat dari bawang goreng, tekstur lembut dari ayam, atau segar dari sayuran. Bagi saya pribadi, ini salah satu jenis makanan yang bikin susah berhenti sebelum mangkuk benar-benar kosong.

Menu kedua yang saya coba adalah Mee Sua Kuah Ayam Kampung. Dari namanya, memang terdengar biasa saja, bahkan bisa dibilang sederhana. Saya sempat berpikir, “Ah, mie ayam kampung begini di rumah juga bisa bikin sendiri.” Tapi setelah mencoba, saya sadar, jangan sekali-kali meremehkan. Dengan harga Rp50.000 per mangkuk, menu ini justru jadi salah satu alasan kenapa saya ingin kembali ke GinGin di lain waktu.

Kuah ayam kampungnya benar-benar nyaman, gurih, dan cocok banget diseruput pelan-pelan, apalagi saat hujan. Rasanya menenangkan, seperti pelukan dalam bentuk makanan. Isiannya memang tidak sebanyak dan sekompleks Mee Sua Hing Hua, tapi justru karena kesederhanaannya itulah menu ini terasa seperti makanan rumahan.

Dalam satu mangkuk, ada mie, kuah ayam kampung, telur rebus satu butir, potongan ayam kampung, jamur shiitake, bawang goreng, dan daun bawang. Setiap suapan terasa pas, tidak berlebihan, tapi selalu bikin puas. Kalau Mee Sua Hing Hua memberikan sensasi ramai dengan banyak kombinasi rasa, maka Mee Sua Kuah Ayam Kampung ini lebih ke arah comfort food yang sederhana, lembut, dan penuh ketenangan. Cocok banget dimakan saat hujan-hujan, ketika kita butuh sesuatu yang bikin hati hangat.

Selain soal rasa, pengalaman makan di GinGin Bakershop juga didukung suasana tempatnya. Interiornya modern tapi tetap terasa homey. Ada aroma roti yang baru dipanggang bercampur dengan aroma kuah mie dari dapur, menciptakan suasana yang bikin betah. Meja dan kursinya ditata rapi, pencahayaannya hangat, sehingga cocok untuk makan santai sendiri maupun bersama teman atau keluarga. Bahkan kalau cuma ingin nongkrong sambil minum kopi dan ngemil roti pun, tempat ini tetap nyaman. Tapi buat saya, highlight utamanya tetap ada di mangkuk miesua yang mereka sajikan.

Kalau dipikir-pikir, makan di GinGin Bakershop bukan cuma soal mengisi perut. Rasanya lebih seperti pengalaman yang membekas. Saya bisa bilang, makanan di sini berhasil memadukan dua hal: kualitas premium tapi tetap punya kesederhanaan yang bikin nyaman. Ada rasa nostalgia, ada rasa hangat, tapi juga ada sensasi baru yang tidak bisa ditemukan sembarangan.

Bagi saya, itulah yang membuat makanan bisa jadi lebih dari sekadar makanan. Semangkuk mie bisa berubah jadi teman di kala hujan, jadi penghibur saat penat, atau sekadar jadi alasan untuk berhenti sejenak dari kesibukan Jakarta. Mungkin terdengar sederhana, tapi kadang justru hal-hal kecil seperti ini yang paling kita butuhkan.

Kalau kamu lagi cari tempat makan yang bisa jadi pilihan aman tapi tetap bikin puas, saya benar-benar merekomendasikan untuk mencoba miesua di GinGin Bakershop. Lokasinya strategis, tempatnya nyaman, menunya beragam, dan yang paling penting: rasa yang ditawarkan nggak kaleng-kaleng. Tips dari saya, datanglah di luar jam makan siang atau makan malam, karena biasanya di jam-jam itu cukup ramai. Kalau bisa, pesan juga roti atau pastry mereka untuk dibawa pulang, karena selain miesua, bakery mereka juga terkenal enak.


Untuk minuman, saya sarankan pilih teh hangat atau kopi ringan biar makin lengkap suasananya, terutama kalau sedang hujan. Teh hangat dipadukan dengan mie berkuah? Dijamin bikin betah duduk lebih lama.

Pada akhirnya, GinGin Bakershop bukan cuma tempat makan, tapi juga tempat untuk pause sejenak dari hiruk pikuk Jakarta. Jadi, lain kali hujan turun atau kamu butuh comfort food yang bisa bikin hangat dari perut sampai hati, coba deh mampir ke sini. Siapa tahu, pengalaman kamu sama memorable-nya dengan saya.

Ditulis Oleh : Alyssa Gunawan

Komentar

  1. Blog kakak sangat membantu, dan semuanya keliatan DELICIOUS 😋

    BalasHapus
  2. Jadi pengen langsung gas kesana buat coba semua menunya 🤤

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung aja mampir ke tempatnya, lokasinya ada di ECO8,Taman Aries, Meruya 😁

      Hapus
  3. Misua dikemas modern, kerennn 👍🏻👍🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan lagi ya kan cobain miesua dengan rasa yang modern

      Hapus
  4. Rasa authentic dengan sentuhan modern, menarik banget untuk dicoba

    BalasHapus
  5. sangat informatif 🤩

    BalasHapus
  6. informasinya sangat membantu, makasih yaa, kapan kapan aku cobain dehh

    BalasHapus
  7. langsung cus kesanaaa

    BalasHapus
  8. Enakkk banget kelianny ., informasinya 👍 lain kali mau coba

    BalasHapus
  9. infomasi yang jelass

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjelajah Nikmat: Pengalaman Nyicip Mie Fong Sheng di Puri Indah Mall

Golden Lamian: Sejarah, Cita Rasa, dan Tips Menikmati Mie Tarik Khas Tiongkok Modern

Vietnam Noodle: Phó Ba Bà